
Setelah di musim lalu Semen Padang FC tertatih-tatih di papan bawah, musim ini kondisinya juga kurang lebih sama. Secara hasil bahkan lebih parah: Degradasi. Walaupun di awal musim manajemen berjanji mengevaluasi kesalahan musim lalu, tapi kenyataannya malah jauh dari kenyataan. Beberapa laga terakhir susah menang. Boro-boro menang, nyetak gol aja susah. Gw mencoba mengulas apa yang terjadi terhadap tim kesayangan gw ini menurut keyakinan gw.
Modal Rp70M Ternyata Rp35M
Musim lalu penasihat klub yang juga merupakan anggota DPR berkoar-koar bahwa Semen Padang FC akan mendapatkan modal Rp70M untuk mengarungi musim. Ini terdengar gede, tapi faktanya tim-tim langganan Liga 1 modalnya di atas Rp70M, minimal Rp80M untuk bisa eksis sebagai penghuni tetap Liga 1. Makanya musim lalu empot-empotan walau untungnya berhasil bertahan di Liga. Di akhir musim lalu beliau kembali koar-koar bahwa Semen Padang FC akan kembali bermodal Rp70M untuk musim selanjutnya. Udah tahu musim lalu dengan modal segitu susah bertahan malah diulangi lagi. Dengan effort yang sama tapi berharap hasil yang berbeda. Belakangan diketahui ternyata untuk musim ini modal yang didapat dari sponsor ga nyampe Rp70M, melainkan hanya Rp35M, setengah dari target📉. Wajar aja degradasi, pemain yang didapat ga ada yang Grade A. Untuk Liga 2 segini mungkin gede, tapi untuk Liga 1 ini kecil🥹.
Persiapan Telat
Kesalahan musim lalu lainnya yang juga diulang adalah telatnya persiapan. Di saat tim-tim lain udah ngumumin pemain-pemain incarannya, Semen Padang FC masih adem-ayem. Dari dulu juga gitu sih. Bedanya dulu diam-diam bisa dapat Ellie Aiboy, diam-diam merekrut Ferdinan Sinaga, diam-diam kedatangan Eka Ramdani, sekarang diam-diam beneran diam🤐. Pembentukan skuad baru dilakukan 3 minggu sebelum kick off Liga 1. Liburnya terlalu lama🏖️. Pemain yang didapat juga bukan pemain top. Sebagian pemain asingnya adalah pemain musim lalu ditambah beberapa pemain asing baru. Dengan budget hemat, di saat tim lain memaksimalkan kuota pemain asing, tim ini malah pede banget bersaing mengandalkan pemain asing apa adanya didukung pemain lokal yang juga bukan pemain bintang. Walaupun di awal musim sempat menang lawan tim kuat Dewa United, tapi tetap aja kualitas ga bisa bohong. Beberapa laga setelahnya mulai sulit nyetak gol hingga susah menang.
Jadwal Kandang di Weekday
Salah satu dosa besar manajemen adalah tidak memprotes draft jadwal sebelum dirilis. Main tanda-tangan aja. 90% laga kandang dilaksanakan pas weekday, bukan pas weekend🗓️. Ini berimbas pada finansial klub karena suporter yang hadir jadi ga full. Sebagian besar suporter adalah karyawan dan mahasiswa yang masih beraktivitas di weekday. Ada juga suporter yang datang, tapi baru masuk stadion pas babak kedua karena tentu sulit mengatur waktu pas weekday. Mereka tentu punya pekerjaan atau hal lain yang perlu diurus sebelum menonton. Dari tv beberapa kali terlihat banyak tribun kosong. Selain finansial, ini juga berdampak pada dukungan moral terhadap tim.
Perombakan di Tengah Musim
Di awal musim Semen Padang FC mempertahankan pelatih musim lalu, Eduardo Almeida. Sebelum paruh musim berakhir pelatih dipecat dan diganti dengan Dejan Antonic imbas dari performa buruk. Beberapa pemain asing pun dipecat. Pemecatan ini tentu ga gratis, sama seperti musim lalu, pengeluaran bertambah untuk membayar pesangon mereka yang tentu ga kecil. Pemain asing dirombak kembali dan kali ini kuotanya dimaksimalkan. Harapannya tentu ingin bangkit seperti musim lalu. Di awal paruh kedua dengan pemain asing baru sempat ada harapan. Secara permainan sempat ada peningkatan.
Namun lagi-lagi secara hasil ga berubah banyak, tetap saja kesulitan nyetak gol dan susah menang. Tim makin terpuruk di zona degradasi. Pergantian pelatih kembali dilakukan dengan menggaet Imran Nahumarury. Keputusan yang sangat gambling karena secara pengalaman dia hanya melatih tim yang sudah jadi macam Malut United yang punya modal gede, itu pun penuh kontroversi musim lalu. Yang dibutukan itu harusnya pelatih yang punya pengalaman menyelamatkan tim dari degradasi yang bisa mengangkat moral tim. Hasilnya justru makin hancur. Tim ini seperti ga punya hasrat untuk menang. Pada akhirnya Semen Padang FC resmi terdegradasi. Bahkan beberapa pertandingan terakhir selalu jadi lumbung gol tim lain🫣.
Finansial Macet
Dengan modal Rp35M doang untuk Liga 1 memang sudah sewajarnya degradasi. Rincian yang gw tahu, Rp15M dari PT Semen Padang, sisanya Rp20M dari tambahan sponsor. Dengan adanya pemecatan pelatih, pemecatan pemain asing, dan merekrut pemain asing baru, tentu saja ada pengeluaran tambahan. Pemain asing yang dipecat kabarnya juga belum dilunasi pesangonnya. Kemudian beredar kabar bahwa telah terjadi penunggakan gaji pada pemain yang diamini oleh manajemen. Pantesan aja mereka bermain seperti ga ada gairah untuk bangkit dari zona degradasi. Saat gw menulis ini Semen Padang FC kembali masuk daftar banned FIFA, persis masalahnya seperti di musim lalu. Efek pertandingan kandang di weekday cukup memperburuk keadaan. Penjualan jersey & merchandise yang dikelola klub yang diharapkan bisa menambah pemasukan ga cukup membantu. Info yang gw dengar, mayoritas pembeli justru perantau di luar Sumatera Barat.
Perusahaan Induk Merosot
Masalah finansial ini ga terlepas dari kondisi perusahan induk saat ini. PT Semen Padang kabarnya hanya diproyeksikan profit Rp80M saja. PT Semen Indonesia profitnya anjlok dari biasanya di kisaran Rp3T jadi Rp190M doang berdasarkan rilis laporan keuangannya di tahun lalu📉. Untuk sekelas BUMN gede, Rp190M itu sangat kecil. Ini turun drastis dibandingkan dengan beberapa tahun sebelumnya. Entah apa yang salah. Ga hanya perusahaan semen aja, beberapa perusahaan BUMN non-bank lainnya juga mengalami hal yang sama, laba bersihnya tergerus hingga harus membubarkan beberapa anak perusahaan untuk efisiensi. Pantesan aja Kementerian BUMN dibubarkan hingga dibentuk Danantara🤔. Semen Padang FC yang selama ini hanya menyusu dari perusahaan induk ikut terdampak fenomena ini.
Tanggung Jawab Manajemen
Masalah utamanya jelas: Finansial💰. Yang paling bertanggung jawab sudah pasti manajemen. Kegagalan terbesar mereka adalah gagal mendapatkan sponsor yang cukup untuk menambah modal agar bisa bersaing di kasta teratas. Walaupun di sosial media yang paling berisik adalah Penasihat klub, tapi tetap saja yang memegang kendali penuh adalah para Direksi klub. Penasihat klub adalah entitas luar, bukan bagian dari Direksi. Kalaupun ternyata para Direksi ini disetir oleh Penasihat seperti isu liar yang beredar, artinya mereka emang ga kompeten sama sekali memegang klub ini sampai bisa disetir begitu. Tapi gw positive thinking aja, selama ga ada bukti konkrit tentu saja ini hanyalah isu liar belaka. Menurut gw, dengan atau tanpa Penasihat klub yang berisik itu, Semen Padang FC memang sudah kesulitan finansial dari awal.
Penasihat Klub
Sejak 2 musim lalu, Semen Padang FC memiliki Fan Advisory Board atau yang dikenal dengan istilah Dewan Penasihat klub. Di Indonesia mungkin jabatan ini masih terdengar asing, tapi di Liga Inggris sejak 2023 lalu setiap klub wajib memiliki Fan Advisory Board. Ini bukan bagian dari Dewan Direksi, melainkan badan independen di luar manajemen klub yang berfungsi sebagai penyambung lidah aspirasi suporter kepada Direksi klub dalam mengambil keputusan strategis. Kalau di Liga Inggris jabatan ini diisi oleh pentolan suporter klub dan digilir tiap musim. Sedangkan di Semen Padang FC jabatan ini diisi oleh politikus selama 3 tahun terakhir🤷♂️.
Secara fungsi menurut gw ini merupakan gebrakan yang bagus👏. Hanya saja pada pelaksanaannya Penasihat klub sering bertindak serampangan. Beberapa kali dia secara terbuka memaki pelatih & pemain di sosial media atau di depan wartawan saat kalah😠. Kalau yang memaki adalah suporter umum gw masih maklum, tapi ini Penasihat klub yang seharusnya menjadi representasi yang baik. Kemudian saat pemecatan pelatih, yang pertama kali mengumumkan adalah Penasihat klub. Ini yang kemudian menjadi isu liar bahwa manajemen disetir oleh Penasihat klub. Sejauh penelusuran gw, sebenarnya sebelum diumumkan pemecatan manajemen sudah memutuskan pemecatan, tapi belum diumumkan ke publik. Penasihat klub yang dapat info A1 inilah yang membocorkannya ke publik pertama kali dan memicu isu ga sedap. Menurut gw ini kurang etis, itu harusnya hak manajemen untuk mengumumkan.
Butuh Manajemen Sepak Bola Profesional
Selama ini di Semen Padang FC yang selalu ditunjuk jadi Direksi adalah orang-orang dari PT Semen Padang atau PT Semen Indonesia. Masalahnya, orang-orang yang ditunjuk ini belum tentu paham dan punya passion mengelola tim sepak bola. Yang gw lihat mereka hanya menjadikan ini sebagai batu loncatan karir untuk promosi jabatan, bukan karena passion ingin memajukan klub. Di era-era sebelumnya memang ada tokoh-tokoh seperti Toto Sudibyo atau Asdian yang begitu berdedikasi dan punya passion pada tim ini. Mereka benar-benar all out bekerja mengelola tim🫡. Bisa dilihat dari ulasan beberapa mantan pelatih & pemain Semen Padang FC di era itu yang begitu positif tentang mereka. Setelah mereka dimutasi dan pensiun belum ada lagi sosok yang benar-benar punya passion sebesar mereka.
Kabar terbaru, Semen Padang FC telah menggelar RUPS pembentukan manajemen klub yang baru. Untuk musim depan Semen Padang FC menunjuk Denny Shulton, mantan staf timnas era Shin Tae Yong, sebagai General Manager yang baru. Posisi Presiden klub diisi Andre Rosiade dan anaknya Ammar Rosiade jadi salah satu Direksi. Sepengetahuan gw mungkin ini pertama kalinya tim ini merekrut orang di luar karyawan PT Semen Padang atau PT Semen Indonesia sebagai petinggi klub. Semoga saja dengan gebrakan ini ada perubahan positif terhadap tim agar bisa segera kembali ke Liga 1.
Politikus di Sepak Bola
Dulu gw sama kayak orang-orang pada umumnya, sering skeptis sama politikus di sepak bola. Beberapa klub sering dianggap gagal semenjak kehadiran politikus. Contoh yang paling terkenal adalah Sriwijaya FC. Klub yang dulunya raksasa di Indonesia, tapi sekarang punya hutang yang luar biasa hingga berakhir degradasi ke Liga 3. Ini berawal dari gubernur di era itu yang jor-joran merekrut pemain bintang untuk menarik perhatian pemilihnya di pilkada selanjutnya. Kemudian ternyata dia kalah dan terlilit hutang. Ini berdampak pada kondisi Sriwijaya FC yang saat itu diisi pemain bintang gajinya tertunggak dan sempat mogok latihan hingga berujung degradasi. Di sini awal mula menggunungnya hutang Sriwijaya FC dan jadi contoh jeleknya efek politik di sepak bola.
Yang orang-orang lupa, keberhasilan Sriwijaya FC dulu bisa double winner juga saat dikelola oleh politikus. Tanpa politikus, mungkin kita ga akan menyaksikan kisah double winner yang heroik itu. Contoh lainnya Persija jadi naga di era 2000an saat dikelola Sutiyoso. PSM juara Liga tahun 2000 saat dipimpin Nurdin Halid yang saat itu jadi anggota DPR RI. Di luar negeri ada politikus dari Catalonia, Joan Laporta yang menjadi Presiden klub Barcelona. Florentino Perez yang saat ini jadi Presiden Real Madrid dulu pernah jadi anggota partai di Spanyol. Mantan Perdana Menteri Italia, Silvio Berlusconi, juga pernah sukses saat jadi Presiden AC Milan. Lalu ada Mauricio Macri di Boca Juniors yang jadi Presiden Argentina. Di Romania ada anggota MPR, Gigi Becali, yang jadi Presiden FC Steau Bucuresti. Beberapa petinggi klub lainnya juga banyak yang punya koneksi dengan politikus seperti di Saudi Arabia, Turkiye, Malaysia, dan Qatar.
Suka atau tidak suka, politikus ini memang punya soft skill kayak sales, yaitu pinter ngomong. Ditambah dengan privilege koneksinya, mereka bisa merayu sponsor & investor untuk membantu tim. Bagi gw simbiosis mutualisme aja sih, klub dapat sponsor, politikus dapat exposure. Selama mereka bisa ngasih kontribusi nyata memanfaatkan privilege mereka untuk membantu klub sih ga masalah. Untuk saat ini juga belum ada kandidat lain yang lebih serius membenahi Semen Padang FC. Ditambah status Semen Padang FC sebagai anak BUMN, perusahaan induk sulit menerima orang luar untuk masuk ke jajaran petinggi manajemen.
Renovasi Stadion
Satu-satunya kabar baik musim ini adalah terkait stadion🏟️. Dulu Stadion H. Agus Salim cukup dikenal sebagai salah satu stadion terjelek di Liga. Sejak awal musim lalu, Semen Padang FC sudah mendapatkan hak pakai exclusive Stadion H. Agus Salim dan melakukan renovasi. Sudah ada adboard, videotron, rumput yang berkualitas, hingga lampu yang memadai. Terkhusus rumput, per musim ini gw liat saat Semen Padang FC main di kandang pas hujan lapangannya udah ga kayak sawah lagi😎. Kualitas rumputnya udah top banget kali ini👍. Dulu tiap hujan pas main di kandang gw malu sendiri liat kondisi lapangannya🙈. Sayangnya, di musim depan akan dilakukan renovasi lanjutan secara keseluruhan. Dampaknya, musim depan Semen Padang FC harus terusir dari Padang dan rencananya berkandang di Pulau Jawa untuk menghemat anggaran.
Penutup
Modal Liga 2 harus lebih dari cukup agar bisa promosi. Semen Padang FC ga bisa bergantung lagi pada kucuran dana dari perusahaan induk, benar-benar harus mandiri mencari sponsor dari luar. Dulu cukup dengan satu sponsor besar di jersey depan sudah bisa bersaing di papan atas Liga. Saat kondisi perusahaan induk yang lagi sehat-sehatnya Semen Padang FC begitu royal sama pemainnya. Bahkan beberapa pemain yang loyal diangkat jadi karyawan tetap. Sekarang dengan beberapa tambalan sponsor lain di jersey Semen Padang FC masih ngos-ngosan di tengah jalan. Secara value, gap Liga 1 dengan Liga 2 itu jauh banget. Gw optimis kalau untuk Liga 2 Semen Padang FC masih kuat secara finansial. Jabatan Penasihat klub menurut gw tetap penting, tapi harus dari pentolan suporter dan di-rolling tiap musim seperti di Liga Inggris. Gw berharap di tangan manajemen baru kondisi tim benar-benar jadi lebih baik dan kembali promosi. Pastinya suporter juga harus mengawal tim ini agar arahnya jelas dan tidak dimanfaatkan untuk kepentingan politik semata. Gw yakin suporter Semen Padang FC di sana cukup aware terkait hal ini dan ga gampang dipolitisasi.
